Seputar Handy Talkie

SEPERTINYA perangkat komunikasi radio Handy Talkie sudah jauh ditinggalkan para penggemarnya, tidak seperti ketika telepon seluler belum seperti sekarang ini. Kalau toh ada yang menggunakan Handy Talkie, kebanyakan hanya pada lingkungan terbatas, seperti mereka yang bertugas di bidang keamanan dan para anggota radio amatir yang masih setia (Lihat “Rental Handy Talkie) http://www.rentalhtsemarang.web.id

PADA saat ini kalau bukan mereka yang berkepentingan dengan pemakaian radio transceiver Handy Talky (HT), mereka tentu akan enggan untuk menenteng Handy Talky. Apalagi penampilannya sampai saat ini memang belum banyak berubah, ada yang dibuat sebesar ponsel atau bahkan lebih mini lagi, namun selalu berakibat pada pengurangan kualitas transmisinya dan akibatnya akses menjadi sulit (klik “Rental Handy Talkie”).Kesan penampilan sebagai bagian dari anggota keamanan sangat melekat dan Handy Talky tidak bisa disembunyikan seperti halnya sebuah ponsel.

Mau sewa ht di semarang di http://www.rentalhtsemarang.web.id

Rasa bangga bagi para petugas keamanan memegang HT, terutama karena memang semula hanya tingkat komandan yang dilengkapi fasilitas HT, sehingga mereka merasa menjadi orang penting dan selanjutnya sesama pemakai HT selalu memanggil dengan sebutan “nDan”, yang merupakan kependekan dari komandan (Sewa HT).

Apalagi dengan HT maupun radio komunikasi lain bisa langsung diterima oleh banyak orang sekaligus sehingga untuk tujuan berkomunikasi dengan banyak orang masih merupakan pilihan yang mampu menandingi fasilitas telekonferensi.

Reinkarnasi HT pada ponsel melalui jaringan telepon seluler ini mendapat sambutan hangat di Amerika Serikat. Dengan segera layanan ini diikuti perusahaan lain, termasuk di Eropa dan negara-negara lain, tahun lalu. Selain itu, juga penyempurnaan teknologi yang digunakan, yaitu dengan apa yang disebut PoC (push-to-talk over celluler).

Mau Rental HT di SOLO Hubungi http://www.rentalhtsemarang.web.id

KOMUNIKASI HT biasa dilakukan secara langsung dari HT ke HT (point to point) atau bisa juga dari HT ke perangkat repeater untuk disebarkan ke HT lainnya. Untuk jangkauan yang jauh, misalnya untuk sebuah kota atau bahkan antarkota, kemungkinan alternatif kedua yang dipilih.

Sebenarnya secara prinsip tidak berbeda jauh dengan jaringan telepon seluler. Hanya, bedanya seluler membutuhkan repeater-repeater kecil yang diatur serapat mungkin satu dengan lainnya, sebaliknya repeater HT kalau bisa sesedikit mungkin dan jarak yang sejauh mungkin.

Untuk mencakup seluruh Pulau Jawa, repeater HT cukup didirikan sekitar 10 repeater di puncak-puncak gunung atau gedung tinggi. Sedangkan sistem seluler bisa sekitar 5.000 repeater kecil yang membentuk seperti sel..Jadi, sebenarnya kedua sistem itu tidak sempurna karena belum bisa menutup seluruh kawasan dan selalu ada blank- spot masing-masing. Dengan demikian, jika kedua sistem disatukan, akan memberikan coverage area yang lengkap.

APAKAH ponsel PTT atau PoC mampu menggantikan peran HT yang makin tenggelam saat ini?

Reinkarnasi ini memang tidak seratus persen menggantikan peran HT yang digunakan selama ini. Banyak hal yang bisa disempurnakan meski juga ada sisi lemahnya.Kelemahan pada radio transceiver terutama menyangkut keamanan informasinya. Semua pembicaraan melalui HT apalagi diketahui frekuensi receiver-nya akan bisa didengarkan oleh pihak lain.

Semua fasilitas perlindungan ini membuat HT menjadi sangat khusus dan harganya juga semakin mahal, selain bertambah tebal saja bentuk fisiknya. Sedangkan untuk digital maupun tone squelch saja tidak semua produsen HT menyediakan produknya.

http://www.rentalhtsemarang.web.id

Dalam hal ini, produk HT Motorola yang biasa bermain di commercial-band memang masih unggul. Sedangkan untuk produk radio amatir yang khusus untuk pita frekuensi amatir sangat tertinggal, barangkali hanya Yaezu yang belakangan meluncurkan produk yang mengimbangi produk Motorola, tetapi untuk jalur radio amatir.

Lalu, apa kelemahan pada ponsel PTT?Tentu ada, terutama pada biaya yang harus dikeluarkan. Berkomunikasi melalui jaringan seluler tentu tidak gratis dan hal ini yang akan membatasi. Tidak lagi bisa berbicara berpanjang-panjang seperti ketika menggunakan HT.

Dengan demikian, bisa diyakini, meski jaringan di Indonesia sudah mengoperasikan ponsel PTT, hal itu tidak akan menggusur pemakaian HT. Karena, pemakaian frekuensi pada HT boleh dibilang gratis, bahkan mereka tidak banyak tahu kalau frekuensi tidak bisa digunakan semaunya sendiri.Meskipun demikian, fenomena pemakaian HT melalui jaringan seluler diperkirakan tetap akan ramai. Terutama masyarakat umum akan bisa menggunakan ponsel HT ini tanpa takut-takut melanggar aturan keamanan karena HT baru ini tidak perlu lagi izin ataupun kecakapan tertentu, cukup membayar pulsa (Sewa HT).

http://sewahtsemarang.blogspot.com/

Iklan

Mengenal Lebih Dekat Kamera DSLR

Tak dapat dipungkiri, kemajuan dunia fotografi belakangan ini begitu pesat semenjak semakin terjangkaunya harga kamera DSLR, bahkan beberapa produk DSLR kelas pemula ada yang mencapai kisaran harga lima jutaan. Dengan membeli kamera DSLR, seseorang akan mendapat kesempatan untuk belajar lebih banyak tentang fotografi, sekaligus  mendapat jaminan akan foto-foto yang berkualitas dan terhindar dari kekecewaan saat memotret memakai ISO tinggi. Ditambah lagi kini harga kamera DSLR bekas sudah semakin murah dan bahkan bisa menyamai harga kamera saku keluaran baru, sehingga makin banyak saja orang awam yang memutuskan untuk membeli kamera DSLR untuk pertama kalinya.
Salah satu DSLR untuk pemula

Namun kamera DSLR bagaimanapun juga adalah kamera yang ditujukan untuk penggunaan tingkat lanjut dan ada beberapa aspek yang berbeda dengan kamera biasa baik dari segi pemakaian maupun perawatannya. Inilah beberapa fakta yang perlu anda ketahui sebelum memutuskan untuk membeli kamera DSLR  :

Membeli DSLR adalah membeli sebuah sistem

Saat begitu banyak pilihan merk di pasaran, faktanya DSLR adalah sebuah sistem fotografi yang umumnya memerlukan beberapa perangkat dengan merk yang sama, yaitu bodi kamera, lensa, lampu kilat dan asesori. Faktanya pula, harga lensa bisa jauh lebih mahal daripada kamera, sehingga saat memutuskan akan membeli kamera DSLR camkan bahwa kamera yang akan dibeli ini adalah sebuah awal dari perburuan panjang akan sebuah sistem fotografi yang menyeluruh.

DSLR punya banyak pilihan lensa

Adalah wajar saat banyak pemilik DSLR pemula (yang umumnya memakai lensa kit) bertanya lensa apa lagi yang sebaiknya dia beli. Namun faktanya kebutuhan lensa itu berbeda-beda tergantung kebutuhan fotografi dan kondisi keuangan seseorang. Mulailah dengan mengenali jenis-jenis lensa yang biasa dipakai para fotografer, termasuk kisaran harganya. Seperangkat sistem fotografi yang lengkap memerlukan minimal sebuah lensa wide, normal dan tele. Bagi yang ingin praktis bisa memiliki lensa zoom yang mampu men-cover rentang yang lebar, seperti lensa zoom 18-200mm. Perlu diketahui pula, ketajaman lensa zoom masih kalah dibanding dengan lensa fix. Mana yang anda pilih, kenali dulu kebutuhan fotografi anda.

DSLR memakai cermin dan jendela bidik optik
Cermin pada DSLR

Ciri utama DSLR (selain lensanya yang bisa dilepas) adalah adanya cerminyang bisa turun naik. Saat posisi cermin turun, gambar dari lensa akan dipantulkan ke arah jendela bidik optik sehingga kita bisa melihat bidang gambar yang masuk melalui lensa. Saat gambar diambil, cermin akan terangkat sesaat memungkinkan cahaya memasuki sensor (dan jendela bidik akan gelap sesaat). Meski DSLR modern kini mulai menawarkan live view, namun umumnya kamera DSLR mengandalkan jendela bidik sebagai satu-satunya cara untuk melihat foto yang akan diambil. Saat pemakai kamera saku sudah terlanjur terbiasa melihat gambar yang akan diambil melalui layar LCD, mungkin pada awalnya akan merasa aneh saat pertama beralih ke DSLR kerena harus mengintip lubang kecil yang bernama jendela bidik optik.

DSLR memiliki sensor yang besar dan ada crop factor
Perbandingan ukuran sensor (Wikipedia)

Rahasia di balik kualitas gambar kamera DSLR terletak pada sensornya yang berukuran lebih besar dari kamera saku. Perhatikan kalau faktanya ukuran sensor pada DSLR itu beragam, ada yang disebut ukuranfull-frame (36 x 24mm), ada yg berukuran 29 x 19mm (APS-H), ada yang berukuran 24 x 16mm (APS-C), dan yang terkecil ada yang berukuran 18 x 13.5mm (four thirds). Perbedaan ukuran ini tampak membingungkan, ditambah lagi adanya konsekuensi dari ukuran sensor yang berdampak pada adanya crop-factor pada lensa yang dipakai. Maksudnya, panjang fokal lensa yang dipakai bisa memberikan fokal efektif yang berbeda-beda tergantung jenis sensornya. Singkatnya, sensor full frame tidak mengalami crop factor, sensor APS-H punya 1.3x, APS-C 1.5x (Nikon, Pentax) atau 1.6x (Canon) dan Four Thirds 2x.

DSLR juga memiliki pilihan resolusi/megapiksel

Kemampuan kamera digital dalam menangkap gambar ditentukan dari resolusi yang dibentuk oleh sejumlah titik atau piksel pada sensor, jadi entah itu kamera ponsel atau kamera DSLR memang faktanya punya resolusi yang  dinyatakan dalam satuan mega piksel. Apabila anda masih percaya kalau mega piksel yang lebih besar adalah lebih baik, coba pikirkan kembali. Sebuah DSLR dengan 6 MP memang punya resolusi yang kalah tinggi bila dibanding kamera saku modern yang punya resolusi 14 MP. Tapi soal kualitas hasil foto, ceritanya jadi berbeda. Faktanya, DSLR dengan 6 atau 10 MP sudah amat baik bahkan untuk keperluan fotografi profesional sekalipun dan pilihan DSLR dengan resolusi lebih tinggi (12, 14 hingga 24 MP) lebih ditujukan bagi mereka yang sering melakukan cropping gambar.

DSLR memiliki ‘jeroan’ yang rumit dan presisi

Modul light meterIbarat sebuah mesin, kamera DSLR memiliki banyak komponen di dalamnya. Salah satu komponen utama dalam kamera adalah modul auto fokus. Kelas dan harga sebuah kamera DSLR salah satunya ditentukan dari jenis modul AF dan jumlah titik AFnya. Modul AF pada DSLR bekerja berdasar phase-detect sehingga akurasi dan kecepatannya jauh mengalahkan sistem AF pada kamera biasa. Belum lagi terdapat beberapa titik AF yang bisa dipilih secara manual atau auto sehingga menghindarkan kita dari kesalahan pemilihan fokus. Selain modul AF, modul lain yang tak kalah pentingnya adalah alat ukur cahaya atau light meter, yang bertugas mengukur dan menganalisa pencahayaan yang masuk melalui lensa dan menentukan berapa eksposure yang tepat. Kesalahan pengukuran cahaya menyebabkan foto jadi terlalu terang atau terlalu gelap. DSLR kelas atas memiliki modul metering yang lebih presisi dengan banyak titik sensor sehingga amat jarang tertipu (oleh cahaya), sementara DSLR ekonomis punya modul metering yang lebih sederhana. Bandingkan dengan kamera saku yang tidak memiliki modul khusus seperti ini, dia hanya mengandalkan algoritma prosesor kamera untuk mencari fokus dan mengukur eksposure secara otomatis.

DSLR bisa dimodifikasi sesuai kebutuhan

Senang modifikasi mobil atau motor? Kalau begitu kira-kira DSLR pun hampir sama. Bila anda perlufocusing screen khusus, tinggal ganti. Kalau perlu magnifier eyecup, tinggal pasang. Kalau mau menambah daya baterai, pasang vertical / battery grip. Mungkin suatu saat nanti DSLR pun bisa gonta-ganti casing layaknya ponsel :)

DSLR punya kinerja tinggi dan buffer besar

Faktanya kinerja DSLR itu cepat. Auto fokus cepat, shutter lag yang cepat, memproses file JPEG cepat hingga menulis file ke memori juga cepat. Dibutuhkan prosesor kelas berat dan ruang simpan sementara (buffer) yang besar untuk mendukung semua proses ini. Apalagi dengan adanya fasilitas pemotretan sekaligus (continuous shooting) yang bisa mengambil hingga 5 gambar per detik, tentu ukuran buffer akan mempengaruhi kinerja keseluruhan. Untungnya kamera DSLR modern sudah memiliki memori buffer yang besar sehingga anda bisa memotret banyak gambar sekaligus tanpa masalah.

DSLR juga perlu lampu kilat

Dengan kemampuan ISO tinggi yang relatif bersih dari noise dan didukung oleh lensa bukaan besar, tampaknya seakan-akan kamera DSLR tidak terlalu perlu lampu kilat. Padahal faktanya, cahaya adalah faktor penting dalam fotografi, dan saat cahaya mulai tidak mencukupi, sumber cahaya tambahan paling mudah didapat adalah dari lampu kilat. Saat lampu kilat internal punya banyak keterbatasan, adanya flash hot shoe pada DSLR bisa dimanfaatkan dengan memasang  lampu kilat eksternal. Beberapa DSLR bahkan memiliki fitur wireless-flash untuk kreatifitas ekstra seperti untuk foto makro. Untuk pencahayaan yang lebih lembut bisa menambah diffuser pada lampu kilat. Untuk menghindari cahaya langsung ke objek foto, lampu kilat bisa diarahkan atau dipantulkan ke langit-langit (bouncing).

DSLR sensitif terhadap debu, perlu perawatan ekstra

Ingat kalau lensa pada DSLR bisa dilepas. Resiko dari melepas lensa adalah adanya resiko masuknya debu ke dalam kamera, yang artinya debu itu bisa jadi menempel di sensor. Faktanya debu yang melekat ini akan nampak di hasil foto, apalagi bila memakai bukaan diafragma kecil. Untuk menghilangkan debu, gunakan peniup debu khusus yang dijual di toko kamera. DSLR modern sudah dilengkapi dengan sistem anti-debu, meski menurut saya tetap lebih efektif memakai peniup debu khusus. Perhatikan kalau debu juga bisa menempel di cermin, dan debu pada cermin ini meski tampak di jendela bidik tetapi tidak mengganggu hasil foto nantinya.

DSLR punya usia shutter tertentu

Shutter unitSatu lagi fakta yang kurang mengenakkan. Setiap jepretan pada kamera DSLR akan tercatat, dinyatakan dalam istilah shutter count. Betul kalau tiap kamera punya shutter yang suatu ketika akan rusak, namun pada DSLR sudah ada estimasi dan pengetesan pabrik akan berapa ‘harapan hidup’ dari shutter unit sebelum akhirnya menjadi rusak atau bermasalah. DSLR ekonomis telah teruji hingga 50 ribu kali jepret, dan DSLR kelas atas sanggup lolos uji hingga diatas 100 ribu kali jepret tanpa masalah. Jadi belajar fotografi memakai DSLR di satu sisi amat tepat karena kameranya memang mendukung untuk belajar, tapi di sisi lain juga jangan sampai terlalu lama belajar, bisa-bisa saat anda sudah mahir justru shutter unitnya akhirnya rusak. Penggantianshutter unit bisa dilakukan oleh agen resmi dengan biaya sekitar satu juta.

Itulah beberapa fakta seputar kamera DSLR. Bila dirasa pilihan memiliki DSLR ternyata tidak semudah yang anda bayangkan, mungkin kamera kelas prosumer bisa jadi pilihan lain yang lebih menarik. Namun bila anda sudah siap akan segala konsekuensinya, menikmati fotografi dengan kamera DSLR tentu akan menjadi suatu kepuasan tersendiri.